Kamis, 30 Mei 2013

tugas p3 hubungan interpersonal


A.    PERTUKARAN SOSIAL

Teori pertukaran sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling mempengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:
·                     Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu.
·                     Jenis hubungan yang dilakukan.
·                     Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
Pertukaran Sosial secara umum menganggap bahawa dasar pembentukkan sesuatu hubungan sosial adalah melalui transaksi dagang, dimana orang berhubungan dengan orang lain dengan mengharapkan sesuatu untuk memenuhi keperluannya.
Teori pertukaran sosial ini juga digunakan untuk menjelaskan berbagai penelitian mengenai sikap dan perilaku dalam ekonomi. pertukaran sosial berasumsi bahwa kita dapat dengan teliti mengantisipasi pemberian imbalan berbagai interaksi. Teori ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain dengan mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya.
 manusia terlibat dalam aktiviti sosial bagi mendapatkan ganjaran, keuntungan dan meminimumkan kos. Aktiviti-aktiviti seperti pekerjaan, percintaan, perkahwinan, persahabatan akan hanya berterusan jika ia menguntungkan kedua-dua belah pihak. Teori ini melihat manusia sebagai makhluk yang rasioanal. Teori ini menunjukkan kehidupan manusia sebagai ikhtar sosial kerana dalam kebanyakan kes manusia cuba memenuhi keperluan diri hanya dengan atau melalui kerjasama dengan individu lain. Atas dasar inilah, proses pertukaran sosial manusia memerlukan tolak ansur yang menghasilkan pergantungan sosial. Di sini manusia dapat mengatur tindakan-tindakan mereka dan menghasilkan ganjaran dengan mengurangkan kos. Lantaran, manusia akan terus melibatkan diri dalam pertukaran sosial bagi mencapai hasil yang memuaskan.

Analisis Transaksional

Analisis Transaksional berakar pada filosofi antideterministik. Analisis ini juga mengakui bahwa mereka dipengaruhi oleh harapan serta tuntutan oleh orang lain yang signifikan baginya, terutama oleh karena keputusan yang terlebih dulu telah dibuat pada masa hidupnya mereka pada saat mereka sangat tergantung pada orang lain. Tetapi keputusan dapat ditinjau kembali dan ditantang, dan apabila keputusan yang telah diambil terdahulu tidak lagi cocok, bisa dibuat keputusan baru.
Transaksional antara lain: status ego, belaian, atau perintah, pembentukan naskah, permainan, dan posisi hidup. Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antar pribadi juga dikenal transaksi  yang di pertukarkan adalah pesan-pesan, baik verbal maupun non verbal. Analisis transaksional juga suatu model analisis komunikasi dimana seseorang menempatkan dirinya menurut posisi psikologi yg berbeda.

ada tiga bentuk transaksi yang terjadi antara dua individu, yaitu:
 1)transaksi komplementer, transaksi ini terjadi jika antara stimulus dan respon cocok, tepat dan memang yang diharapkan, sehingga berjalan lancar;
 2) transaksi silang, transaksi ini terjadi jika stimulus dan respon tidak cocok dan biasanya komunikasi ini akan terganggu;
 3) transaksi terselubung. Transaksi ini terjadi jika antara status ego beroperasi bersama-sama.
tujuan dasar dari analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekrang dan arah hidupnya. Sasaranya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatsai oleh putusan dini mengenai posisi hidupnya.
Menjelaskan pembentukan kesan dan ketertarikan interpersonal dalam memulai hubungan

Adapun tahap-tahap dalam hubungan interpersonal yakni meliputi :
1.      Pembentukan.

Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a)     Informasi demografis.
b)     Sikap dan pendapat (tentang orang atau objek).
c)     Rencana yang akan datang.
d)     Kepribadian.
e)     Perilaku pada masa lalu.
f)     Orang lain serta,
g)     Hobi dan minat.

Pembentukan kesan
Pembentukan pesan adalah proses di mana kita membentuk kesan tentang orang lain. Bagaimana kesan pertama yang dibentuk dapat mempengaruhi penilaian atau keputusan kita tentang orang lain. Pembentukan kesan pertama terhadap seseoerang yang baru bertemu terjadi dalam waktu sangat pendek, relative singkat. Penyebabnya adalah implicit personality theory, yairu kecenderungan menggabungkan beberapa sifat sentral dan peripheral (contoh: orang cantik pasti baik). Kesan pertama seringkali salah karena lebih percaya teori sendiri daripada kenyataan. Perspektif kognitif dalam pembentukan pesan telah memberikan peran openting dalam usaha memahami karakteristik dan proses pembentukan kesan.
            Terdapat beberapa efek khusus yang mempengaruhi pembentukan kesan tentang orang lain. Akibatnya bisa timbul ketidak-akuratan kesan. Efek-efek itu adalah efek konsistensi, efek halo, efek kepribadian implisit, efek informasi awal dan akhir, serta efek positivitas dan negativitas.
Efek konsistensi. Ini adalah kecenderungan Anda untuk mengevaluasi atau menganggap orang lain selalu konsisten dengan karakteristik tertentu. Misalnya seseorang yang sudah dianggap baik, tidak akan dianggap jahat meskipun pernah juga menunjukkan kejahatan. Tidak akan ada pemberian kesan yang dikotomis. Tidak mungkin dianggap baik hati sekaligus busuk hati, sabar sekaligus pemarah, atau kejam sekaligus penuh kasih.
Efek halo. Efek halo adalah kecenderungan seseorang untuk berpikir dan menilai bahwa orang yang kualitasnya baik dalam satu hal juga baik dalam hal lainnya. Sekali berkesan memiliki hal positif, maka ia dikelilingi hal positif lainnya. Misalnya Anda memiliki kesan bahwa seseorang jujur. Nah Anda lantas menganggap orang itu juga baik hati, sederhana, pandai, ramah, dan lainnya. Padahal boleh jadi orang itu tidak memiliki kualitas positif lainnya.
Efek kepribadian implisit. Terkait dengan efek halo adalah konsep kepribadian implisit, yaitu asumsi adanya sifat-sifat tertentu yang berhubungan dengan sifat lain. Satu sifat positif akan dihubung-hubungkan dengan sifat positif lainnya, sebaliknya satu sifat negatif akan dihubung-hubungkan dengan sifat negatif lainnya. Misalnya Anda menilai seseorang ramah pada Anda, maka Anda juga menilai bahwa orang itu pastilah juga baik hati, cerdas, bersahabat, suka menolong, atau sifat-sifat positif lainnya. Demikian juga jika Anda menilai seseorang itu pemarah, maka Anda juga menilainya tidak jujur, sombong, tidak ramah, atau sifat-sifat negatif lainnya.
Efek informasi awal dan akhir. Anda melihat seseorang sedang menolak memberi sedekah pada pengemis. Lantas Anda memiliki kesan bahwa orang itu tidak baik. Nah, meskipun kemudian beberapa kali Anda melihatnya memberikan sedekah, tetap saja Anda menilainya tidak baik. Fenomena tersebut adalah hal biasa, dan dikenal dengan istilah primacy effect. Dalam primacy effect, informasi awal tentang seseorang lebih berpengaruh dalam membentuk kesan daripada informasi selanjutnya.
Seseorang yang pada saat awal ketemu sangat romantis, misalnya membawakan bunga, akan terus memperoleh kesan sangat romantis, meskipun pada pertemuan selanjutnya sudah tidak pernah membawakan bunga lagi. Inilah mengapa membuat kesan baik pada awal pertemuan sangat penting. Banyak keputusan penerimaan calon karyawan pada saat wawancara kerja, sebenarnya sudah dibuat saat pewawancara melihat yang diwawancarai pertama kali. Jika pewawancara melihat Anda gugup, gemetar, dan salah tingkah, maka saat itu Anda sudah ditolak. Meskipun kemudian Anda menunjukkan diri cukup cerdas dan memiliki kemampuan lebih diatas pelamar yang lain, tetap saja kurang berguna karena kesan pewawancara terhadap Anda sudah jelek.
Kadangkala informasi yang terakhir lebih berpengaruh dalam membentuk kesan daripada informasi sebelumnya. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah recency effect. Misalnya Anda selama ini mengira teman Anda sangat pelit karena tidak pernah mau memberikan sedekah pada pengemis, pengamen atau yang lainnya. Tiba-tiba suatu hari, saat ada gempa di Jogja, teman Anda itu menyumbang uang sangat besar untuk korban gempa. Lantas Anda menyimpulkan bahwa si dia sangat baik hati dan pemurah.
Efek positivitas dan efek negativitas. Merupakan kecenderungan manusia untuk menekankan pentingnya hal-hal positif. Orang cenderung lebih suka berdekatan dengan hal-hal yang menyenangkan dan positif, begitu juga dalam menilai orang lain. Misalnya saja dimintai pendapat tentang teman Anda, maka Anda akan cenderung untuk mengungkap hal-hal positif daripada hal-hal negatif tentang teman Anda. Biasanya, seseorang juga akan cenderung menilai positif orang-orang yang terkenal dan melegenda. Misalnya Anda akan cenderung menilai positif dalam hal apapun pada Iwan Fals, meskipun mungkin ia memiliki juga banyak hal negatif.
Hal-hal negatif lebih berpengaruh dalam menilai orang. Kesan negatif lebih sulit berubah daripada kesan positif. Jika pada awal mula Anda sudah mendapatkan gambaran bahwa teman Anda tidak setia, maka akan sulit merubah gambaran itu. Meskipun teman Anda telah menunjukkan perilaku setia, tetap saja penilaian negatif Anda akan sulit diubah. Sebaliknya, jika Anda menilai teman Anda baik hati, tiba-tiba ia berbuat tak senonoh, maka sangat boleh jadi penilaian Anda langsung berubah menjadi negatif.

Menjelaskan model peran, konflik dan adequancy peran serta autentisitas dalam hubungan peran

 teori peranan memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan ”skenario” yang di buat oleh masyarakat. Peranan merupakan aspek dinamis dari suatu status (kedudukan). Apabila kita melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan status yang kita miliki dalam masyarakat, maka kita telah menjalankan sebuah peranan dengan baik.
Asumsi teori peranan mengatakan bahwa hubungan interpersonal akan berjalan harmonis mencapai kadar hubungan yang baik yang ditandai adanya kebersamaan, apabila setiap invidu bertindak sesuai dengan ekspektasi peranan, tuntutan peranan, dan terhindar dari konflik peranan. Ekspekstasi peranan atau peranan yang diharapkan, artinya hubungan interpersonal berjalan baik apabila masing-masing individu dapat memainkan peranan sebagaimana yang diharapkan.
Konflik peranan terjadi ketika individu tidak sangggup mempertemukan berbagai tututan peranan yang kontradiktif. Misalnya, seorang ibu yang berperan pula sebagai seorang pengemudi bentor di waktu yang bersamaan ia harus memilih  mengantar mana yang terlebih dahulu, apakah tetangganya yang minta tolong untuk diantarkan ke rumah sakit atau harus mengemudikan bentor demi mendapat uang harian untuk keluarganya. 

Menjelaskan intimasi dan hubungan pribadi

Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Intimasi juga adalah salah satu atribut yang paling menonjol dalam suatu hubungan intim daripada hubungan pribadi yang lain. Keintiman (intimacy) sangat berkaitan dengan derajat kecintaan, kepercayaan, kepuasan, tanggung jawab dan pengertian pasangan dalam hubungan yang dekat (intim). Keintiman juga memberikan sumbangan besar dalam memenuhi kebutuhan individu dan keintiman itu pun memberikan efek positif pada kebaikan pasangan dalam suatu hubungan pertemanan (Prager & Buhrmester dalam untuk mejalin hubungan pribadi diperlukan adanya intimacy). Cinta interpersonal membutuhkan tiga hal:Intimacy, Passion, dan Commitment. Perasaan dekat dan nyaman muncul dari kualitas kebersamaan yang bagus. Keberasamaan yang menciptakan Intimacydan kenyamanan ini adalah sebuah wujud awal dari cinta yang sering disebut sebagai persahabatan atau pertemanan (Liking/Friendship). Proses pendekatan itu proses dimana kebersamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan yang merupakan wujud awal cinta. Jika Intimacy, Passion, dan Commitmentterpenuhi, maka sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena dliliputi oleh cinta yang menyeluruh (Consummate Love).

Menjelaskan intimasi dan pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama. Faktor-faktor yang menumbuhkan hubungan interpersonalruang baik berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan. Factor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain. Kejujuran, Factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi. Amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Teori-teori tentang efek komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pula hypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa.


B.CINTA DAN PERKAWINAN

1. BAGAIMANA MEMILIH PASANGAN


Pada dasarnya memilih pasangan hidup itu berdasarkan tiga kriteria dasar yaitu :
·                     COCOK JADI ANAK DARI ORANG TUA KITA
·                     COCOK JADI AYAH / IBU DARI ANAK-ANAK KITA KELAK
·                     COCOK JADI SUAMI / ISTRI KITA

Memiliki lebih banyak persamaan dalam bidang ilmu pengetahuan seperti politik, keagamaan, hobi atau yang lainnya. Semakin banyak persamaan, tentu saja semakin baik dan semakin kompak. Kesamaan visi dan misi dapat dicapai sehingga anda berdua tahu harus menuju kemana. Selain itu dalam suatu diskusi akan tercapai keadaan dimana anda berdua sama tinggi, dimana satu sama lain adalah berdiskusi, tidak saling memerintahkan.
Reaksi emosi yang dimiliki pasangan adalah sama dalam menghadapi suatu kejadian atau peristiwa seperti kegembiraan, kesedihan, keterkejutan dan simpatik. Hal ini akan membuat anda berdua tidak memiliki ketimpangan emosi. Akan sangat lucu sekali ketika anda bersedih karena sesuatu sedangkan pasangan anda justru tertawa karena menganggapnya lucu. Jika hanya terjadi sesekali itu tidak masalah, namun jika sering dan terus terjadi maka bisa menimbulkan salah paham dan pertikaian.
Memiliki pemahaman yang sama mengenai hubungan seperti keakraban, kebebasan, kebergantungan, pemberian dan pengorbanan. Pemahaman tentang hubungan yang sama ini dapat menggiring anda dan pasangan untuk saling mengerti, ada di tahap mana anda berdua sedang berada. Ini tentu saja untuk menunjukkan betapa serius anda atau si dia menjalin hubungan.
Selalu memupuk sifat yang disukai dalam diri dan memamerkannya pada pasangan. Pasangan yang baik akan selalu memperbaiki diri untuk membuat pasangannya lebih baik dan lebih nyaman.
Mereka yang mengasihi pasangan bukan karena tampang, harta dan keturunan. Namun pasangan yang mencintai anda dengan tulus karena anda. Begitu pula dengan anda, haruslah mencintai pasangan karena dia, bukan hal yang lainnya.
Cari pasangan yang sealu membantu anda dalam mengukuhkan imej diri anda dan mendukung semangat dan menyakinkan diri anda, begitu pula sebaliknya.
Pasangan yang suka memuji dan memotivasi pasangannya dengan ikhlas dan tidak suka berbohong. Kejujuran adalah salah satu kunci besar dari hubungan yang harmonis dan menyenangkan. Kejujuran pula akan membuat hidup anda berdua menjadi lebih nyaman.


10 TIPS CARA UNTUK MEMILIH PASANGAN

1. Visualisasikan hubungan ideal

Bermimpilah hal-hal yang sangat Anda inginkan, lalu visualisasikanlah di dalam mata batin Anda.
Pusatkan pikiran dengan memejamkan mata 5-10 menit, lalu rasakan kedamaian yang mendalam dari bayangan hubungan percintaan yang Anda impikan.

2. Tuliskan keinginan

Segera tuliskan apa yang Anda lihat dalam pikiran seolah-olah hal tersebut terjadi saat ini, atau sudah terjadi. Ini adalah cara terkuat yang dapat menentukan tindakan yang akan diambil untuk merealisasikan keinginan Anda.

3. Tuliskan tipe pria idaman

Pada baris pertama selembar kertas tulislah kata ‘saya’, lalu tulis tipe orang yang Anda inginkan jadi pasangan secara rinci. Jadilah aktif dan jelas dengan deskripsi Anda.
Contoh: Aku menikmati hubungan cinta dengan seorang pria yang baik hati, lembut, dan penuh kasih. Atau, aku cinta menghabiskan waktu dengan seorang pria yang suka bersenang-senang, dan juga suka memasak bersama di rumah.

4. Tuliskan semua keinginan dalam percintaan

Lanjutkan kalimat tersebut sampai Anda merasa semua yang Anda inginkan dalam hubungan percintaan. Biarkan mengalir tapi jangan terlalu memilih. Ingatlah bahwa Anda ingin mencari pasangan sejati adalah ide konseptual yang mungkin tidak ada.

5. Tegaskan secara positif

Pastikan setiap kalimat Anda utarakan dengan menggunakan kalimat positif. Tahan diri Anda untuk menggunakan deskripsi negatif seperti kata ‘tidak’. Ketika kita menjelaskan secara negatif, secara tidak sadar kita telah membiarkan pikiran negatif merasuki jiwa.
Contoh: “Saya tidak ingin berkelahi dengan orang yang saya cintai,” Anda bisa menggantinya dengan kalimat, “saya berkomunikasi dengan orang yang saya cintai dengan kedewasaan, keterbukaan, dan kesenangan.

6. Ketahui apa yang tidak dapat Anda toleransi.

Gunakan pengalaman masa lalu Anda untuk menjelaskan apa yang tidak ingin Anda hadapi di hubungan selanjutnya.
Contohnya, jika Anda tidak ingin memiliki hubungan dengan pria yang jauh dari Anda atau pria yang sudah memiliki anak, masukan adegan tersebut pada sesuatu yang tidak dapat Anda tolerir. Pastikan selalu menggunakan sudut pandang positif seperti seseorang yang berada di area yang sama, atau seseorang yang masih single.

7. Sadari nilai-nilai Anda

Ketahuilah apa saja nilai kehidupan yang paling penting bagi Anda? Pastikan mereka termasuk dalam daftar Anda, dan tetapkan hal tersebut sebagai nilai yang juga harus dipercaya pria idaman Anda. Sebuah hubungan yang sukses harus dalam perjanjian atau paling tidak menghormati nilai-nilai masing-masing.

8. Periksa kembali daftar

Periksa kembali tulisan Anda untuk melihat apakah Anda melupakan sesuatu yang penting bagi Anda. Pastikan tulisan ini merupakan gambaran mimpi yang lebih besar dibandingkan terjebak dalam rincian yang terlalu jelas.
Contohnya, jika Anda membuat tulisan seperti, “Dia harus berpendapatan lebih dari 1 miliar per tahun,” sebaiknya gunakan kalimat, “Dia dapat membuat hidup saya dan keluarga dalam keadaan yang baik.”

9. Bacalah tulisan tiap hari

Baca dengan suara yang lantang selama satu minggu untuk menanamkannya ke dalam alam bawah sadar Anda. Tempatkan tulisan tersebut di tempat yang mudah terlihat sehingga Anda mudah untuk mengingat apa yang ada di dalamnya.

10. Selalu terbuka

Siapkan diri menyambut hubungan baru Anda untuk mendapatkan kejutan-kejutan dan tidak persis sama dengan apa yang Anda tuliskan. Namun, jika Anda bertemu dengan seseorang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang Anda inginkan, jangan berani berkompromi.

2. SELUK BELUK HUBUNGAN DAN PERKAWINAN
Azas Perkawinan Menurut UU No.1 Tahun 1974 
Tujuan Perkawinan adalah membentuk Keluarga yang bahagia dan kekal sedangkan  Suatu perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing – masing Agama dan     Kepercayaannya, perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang – undangan yang  berlaku. Dan Azas Monogami adalah suatu perkawinan seorang pria hanya boleh mempunyai seorang isteri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami. Seorang suami dapat beristeri lebih dari satu apabila diizinkan Pengadilan dengan persyaratan :
1. Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya.
2. Isteri cacat badan atau penyakit yang tidak dapat sembuh
3. Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.
4. Calon Suami isteri harus telah matang Jiwa dan Raganya untuk melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir dengan perceraian.
5. UU ini mempersempit terjadinya perceraian kecuali harus ada alasan – alasan tertentu serta harus dilakukan didepan sidang Pengadilan.
6. Hak dan Kedudukan Isteri adalah seimbang dengan Hak dan Kewajiban Suami baik dalam kehidupan berumah tangga maupun dalam pergaulan Masyarakat.

Larangan Perkawinan Menurut Hukum Islam ( Asas Selektivitas ) 
1.Perkawinan Karena Perbedaan Agama
2.Perkawinan Karena Hubungan darah yang masih terlampau dekat
3.Perkawinan karena Hubungan Susunan
4.Perkawinan karena Hubungan Semenda
5.Perkawinan Poliandri
6.Perkawinan terhadap Wanita yang di Li’an
7.Perkawinan terhadap Wanita / Pria Pezina
8.Perkawinan terhadap Istri yang ditalak tiga
9.Perkawinan Pria yang telah beristri empat.
10. Perkawinan Pria/wanita pada waktu Ihram Haji/Umrah

Rukun dan syarat nikah

Rukun Nikah
1.Calon mempelai pria dan wanita
2. Wali dari calon mempelai Wanita
3. Dua orang saksi ( Laki – laki )
4. Ijab
5. Kabul

Syarat Nikah
Calon Pengantin Pria

1. Beragama Islam
2. Jelas Pria ( bukan banci )
3. Tidak dipaksa
4. Tidak beristri empat orang
5. Bukan mahran calon istri
6. Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan calon istri
7. Mengetahui calon istri tidak haram dinikahinya
8. Tidak sedang dalam Ihram Haji atau Umrah

Calon Pengantin wanita
1. Beragama Islam
2. Terang Wanita
3. Telah memberi izin kepada walinya untuk menikahkannya
4. Tidak bersuami dan tidak dalam Iddah
5. Bukan mahram calon Suami
6. Belum pernah di Li’an
7. Terang Orangnya
8. Tidak sedang dalam Ihram Haji atau Umrah

Syarat Wali
1. Beragama Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Tidak dipaksa
5. Terang Lelaki
6. Adil ( bukan fasik )
7. Tidak sedang Ihram Haji atau Umrah
8. Tidak rusak pikirannya
9. Tidak dicabut Haknya oleh Pemerintah

Syarat Saksi
1. Beragama Islam
2. Laki – laki
3. Baligh
4. Berakal
5. Adil
6. Mendengar ( tidak tuli )
7. Melihat ( tidak buta )
8. Bisa bicara ( tidak bisu )
9. Tidak pelupa
10. Menjaga Harga Diri
11. Mengerti maksud Ijab dan Kabul
12. Tidak merangkap menjadi Wali

Prinsip Pergaulan Suami Istri : 
Suami Sebagai Kepala Keluarga dan Istri Sebagai Ibu Rumah Tangga
Pergaulan yang Makruf serta saling menjaga rahasia masing – masing
Pergaulan yang Sakinah
Pergaulan yang Mawaddah ( rasa cinta ) terutama di masa Muda
Pergaulan yang Rahmah (rasa santun ) terutama di masa Tua

Kedudukan Suami
1. Suami adalah Kepala Keluarga dan Istri Ibu Rumah Tangga
2. Hak dan Kedudukan Istri adalah seimbang dengan Hak dan Kewajiban Suami dalam kehidupan Rumah Tangga dan Masyarakat
3. Masing – masing pihak berhak melakukan perbuatan Hukum

Kewajiban Suami
Suami adalah Pembimbing terhadap Istri dan Rumah Tangganya.
Suami wajib melindungi Istrinya dan memberikan keperluan hidup sesuai kemampuannya.
Suami wajib memberi pendidikan Agama dan Ilmu lain kepada Istrinya.
Sesuai kemampuannya suami menanggung :
1. Nafkah, Kiswah, Tempat Kediaman.
2. Biaya Rumah Tangga, Perawatan dan Pengobatan bagi Istri dan Anak.
3. Biaya Pendidikan bagi anak.

Kewajiban Istri

Berbakti lahir dan batin kepada Suami dalam batas yang dibenarkan oleh Islam.
istri mengatur Keperluan Rumah Tangga dengan sebaik – baiknya.
Menjaga Kehormatan Diri dan Rumah Tangga
Menjadi Pendamping Suami yang Setia

Tentang Pemeliharaan Anak
Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak memiliki cacat fisik atau mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan, Orang Tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan

Hukum di dalam dan di luar Pengadilan.
Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.

ETIKA DALAM PERKAWINAN

Bersikap Lemah Lembut kepada Istri, lemah Lembut dalam Bersenggama, melakukan sholat sunat sebelum bersenggama disunatkan suami meletakkan tangannya di atas kepala Istrinya. Membaca Do’a sebelum bersenggama, memilih waktu yang baik untuk bersenggama, dianjurkan berwudlu’ ketika ingin mengulangi senggama.

Masalah diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:
·         Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi.
·         Perbedaan watak.
·         Temperamen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara  suami dan istri.
·         Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
·         Kejenuhan rutinitas.
·         Hubungan antara keluarga besar yang kurang baik.
·         Adanya istilah WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain).
·         Masalah harta warisan.
·         Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
·         Domonasi dan intervensi orang tua atau mertua.
·         Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.


10 HARAPAN SUAMI- ISTRI

1. Suami mempunyai harapan kepada istri untuk memberikan kasih sayang dan kemanjaan, sebaliknya istri mengharapkan senantiasa membisikkan perkataan kasih sayang ditelinganya sepanjang waktu.
2. Suami berharap istri memahami prinsip, tujuan, pegangan, dan pendirian hidupnya. Sedang istri berharap kasih sayang Suami dan penghargaan atas pelayanan, dan penampilan Istri.
3. Suami berharap istri memberikan penghormatan yang dan sebaliknya istri mengharap suami memberikan sentuhan dan pelukan yang ikhlas.
4. Suami menghnarapkan istri tidak menyinggung hati dan permintaan yang berlebihan, mengharapkan Teguran yang hikmah atas kesalahan
5. Suami berharap istri percaya secara penuh kepadanya istri berharap suami menghormati, penuh perhatian,
lemah lembut dan tidak mudah emosi.
6. Suami berharap Istri dapat memahami prilakunya dan Istri, suami menjadi sahabat setia setiap waktu dan dimanapun
7. Suami mengharapkan Dukungan dan Motivasi dari sebaliknya Istri berharap suami dapat membimbing mereka agar di dunia dan akhirat.
8. Suami berharap istri senatiasa menjalankan perintah Allah SWT tanpa disuruh/ diperingatkan, Istri berharap suami dapat dan melayani keluarga istri seperti keluarganyasendiri.
9. Suami berharap istri dapat mendidik dan menyayangi anak – anak sedangkan istri mengharapkan suaminyamemahami dan melayani kehendak Istri.
10. Suami berharap istri selalu mendoakannya agar bahagia dan sejahtera di dunia dan akhirat dan begitu juga sebaliknya harapan istri.
3. PENYESUIAN DIRI DAN PERTUMBUHAN DALAM PERKAWINAN
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
 Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis. pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.

4. PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI
Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.  Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan. Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.

5. ALTERNATIF “MEMBUJANG” (SINGLE LIFE)

            Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu. Kemapanan dan kondisi ekonomi pun menjadi alasan tetap melajang. Pria sering kali merasa kurang percaya diri jika belum memiliki kendaraan atau rumah pribadi. Sementara, perempuan lajang merasa senang jika sebelum menikah bisa hidup mandiri dan memiliki karir bagus. Mereka bangga memiliki sesuatu yang dihasilkan dari hasil keringat sendiri. Selain itu, ada kepuasaan tersendiri.
Banyak yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada menikah akhirnya berakhir dengan perceraian. Lajang pun lebih mempunyai waktu untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang. Pelajang biasanya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah. Kehidupan melajang bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Bukan pula sebuah pemberontakan terhadap sebuah ikatan pernikahan. Hanya, mereka belum ketemu jodoh yang cocok untuk berbagi dalam suka dan duka serta menghabiskan waktu bersama di hari tua.

DAFTAR PUSTAKA :

GERUNGAN, Dipl.DR.W.A.Psych “psikologi social” jogjakarta1959 meurut (29)

Kamis, 02 Mei 2013

fenomena kesehatan rakyat miskin


fenomena kesehatan bagi rakyat miskin

Kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan kita. Berbagai cara dilakukan untuk menjaga kesehatan kita, salah satunya adalah jaminan atau asuransi kesehatan.Tidak dipungkiri kesehatan merupakan faktor penunjang maksimalnya kinerja kita. Semakin maksimalnya kinerja kita maka semakin optimalnya pembangunan bangsa. Karena itulah faktor kesehatan tidak lepas dari perhatian pemerintah, hal ini ditunjukan dengan disusunnya undang-undang tentang kesehatan oleh pemerintah, guna menjamin kesehatan masyarakatnya.
Banyak undang-undang diterapkan di Negara kita, salah satunya undang-undang kesehatan yang mengatur banyak bidang dalam kesehatan baik dari pengobatan, perawatan, pelayanan.semua sangat jelas diatur dalam undang-undang, disempurnakan kembali dengan adanya peraturan- peraturan mengenainya.dari sini terlihat betapa siap, betapa telitinya bangsa kita ini untuk mensejahterakan rakyatnya.Tapi pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak “ tak ada hal di dunia ini yang sempurna.begitu pula pada pelaksanaan undang-undang, peraturan yang dibuat oleh para menteri terlhat sangat sempurna tapi di aplikasinya banyak sekali terjadi hambatan serta diwarnai dengan manipulasi- manipulasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam undang-undang dasar 1945 pasal 34 bahwasanya” fakir miskin dan anak telantar dilindungi oleh Negara”,pasal 28 H “Sebagai warga negara, rakyat miskin mempunyai hak dasar yang melekat pada dirinya untuk mendapatkan pemeliharaan hidup oleh negara, termasuk memelihara kesehatan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dasar negara”. Sebagai konsekuensinya, tentu negara harus bertanggung jawab melindungi, menjaga, dan memelihara kesehatan seluruh warganya tanpa kecuali dan khususnya warga negara yang hidup dalam deraian kemiskinan dan selalu rentan terhadap aneka jenis penyakit.( Siswono, 2008).tetapi pada kenyataannya kewajiban pemerintah yang dicantumkan pada pasal 28 H belumlah terlaksana dengan baik hal ini ditunjukan dengan masih sulitnya masyarakat miskin mendapatkan jaminan kesehatan yang telah disediakan pemerintah, yaitu askeskin. Kesulitan yang menghambat masyarakat miskin mendapatkan haknya dirasakan mulai dari sulitnya pengurusan askeskin, informasi yang tidak menyeluruh ke semua rakyat miskin, ditambah dengan adanya pihak-pihak tertentu yang tidak jujur dalam mengalokasikan dana sehingga banyak dana yang hilang tak berbekas. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kontrol pemerintah dalam menjalankan kewajibannya sesuai dengan pasal 28 H dalam UUD1945. Pemerintah pun menegaskan kembali pasal tersebut melalui program Askeskin yaitu program pemerintah untuk menjamin kesehatan bagi masyarakat miskn dan yang kurang mampu.berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004 pemerintah menunjukan PT.ASKES untuk menjalankan program tersebut.
Upaya pemerintah dalam menjalankan kewajibannya untuk menjamin kesehatan masyarakatnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan , banyak terjadi kejanggalan mulai dari pelaksanaannya, koordinasi, verfikasi, hingga pemutakhiran data rakyat miskin. Mulai dari pendataan rakyat miskin sejak tahun pertama 2005, terdapat Rp 2.3 triliun alokasi dana Askeskin. Dan berturut tahun 2006 sebesar Rp 3,6 triliun, 2007 Rp 2,2 triliun dan untuk 2008 telah dianggarkan Rp 4,6 triliun. Artinya, total anggaran mencapai Rp 12,7 triliun, sementara jumlah rakyat miskin yang harus di-cover tahun ini sebanyak 76,4 juta orang, atau sekitar 30 persen dari total penduduk Indonesia.Menarik mencermati angka-angka yang dipaparkan instansi pemerintah dalam cakupan rakyat miskin. Badan Pusat Statistik-BPS, misalnya, pada awal Juli 2007 melansir jumlah penduduk miskin hingga Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa, atau mengalami pengurangan sebesar 2,13 juta jiwa. Artinya, sekitar 16,58 persen dari 224,177 juta penduduk Indonesia. Hitungan matematika sederhana, angka ini mengalami penurunan jumlah rakyat miskin dicatatkan lembaga yang sama pada Maret 2006 sebanyak 39,30 juta atau 17,75 persen dari 221,328 juta total penduduk Indonesia saat itu.
Menurut PT Askes, jumlah kepesertaan rakyat miskin dalam Program Askeskin berdasarkan data Gakin (keluarga miskin) yang kemudian dikoordinasikan dengan pemda, pada semester I 2005 sebanyak 36 juta jiwa. Semester II 2005 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 60 juta jiwa. Pada 2006 sebanyak 60 juta jiwa, sedangkan 2007 menjadi 76,4 juta jiwa dari 19,1 juta rumah tangga miskin (RTM) dengan asumsi masing-masing anggota keluarga 4 orang. Anehnya lagi, dalam pengelolaan anggaran Askeskin 2008 sebesar Rp 4,6 triliun, jumlah rakyat miskin tidak bergerak alias tetap di posisi 76,4 juta jiwa. Perhitungan Depkes sebagai pengelola baru Askeskin, dana yang tersedia diperkirakan mampu meng-cover sekitar 41 juta rakyat miskin. Artinya nasib sekitar 35,4 juta siap-siap terkapar akibat tidak mendapatkan akses kesehatan. Kalau beranjak dari perbandingan data-data BPS dan PT Askes/Depkes menyangkut keberadaan rakyat miskin, terlihat jelas perbedaan signifikan, sebesar 37,23 juta jiwa atau lebih dari dua kali lipat jumlah rakyat miskin versi BPS. Artinya, kalau ikut versi PT Askes/Depkes, maka rakyat miskin yang berhak mendapatkan Askeskin, hampir 33 persen dari total penduduk Indonesia, atau setara dengan total penduduk Mesir, yang jumlahnya 76 juta lebih, sesuai versi CIA World Factbook 2004. Sebagai pelaksana tunggal Program Askeskin dengan bayaran management fee sebesar 5 persen dari hampir Rp 8 triliun total dana Askeskin hingga 2007 yang dikucurkan pemerintah, maka jumlah rakyat miskin sebagai peserta Askeskin akan mencengangkan bila dibandingkan paparan BPS. ( Siswono, 2008)
Tak hanya program Askeskin, pemerintah juga menjalankan program Jamkesmas yang dirujuk dari Undang-Undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tetapi program ini masih bernafaskan asuransi sehingga mengharuskan pembayaran premi dan iuran masyarakat.padahal program ini berbeda dengan asuransi, pemerintah membayar semua kebutuhan medis sehingga masyarakat tidak dipungut biaya, baik untuk perawatan, fasilitas rumah sakit, dan semua obat.tetapi dalam kenyataannya masyarakat miskin masih mengalami kesulitan untuk dapat menikmati yang menjadi hak mereka yang telah diatur dalam undang-undang.
Berbagai upaya pemerintah untuk menjamin kesehatan masyarakatnya terutama masyarakat miskin masih belum maksimal. Masih banyak yang harus dibenahi dalam pelaksanaan undang-undang yang telah disusun oleh pemerintah untuk menjamin kesehatan masyarakat miskin.

fenomena kesehatan rakyat miskin


fenomena kesehatan bagi rakyat miskin

Kesehatan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan kita. Berbagai cara dilakukan untuk menjaga kesehatan kita, salah satunya adalah jaminan atau asuransi kesehatan.Tidak dipungkiri kesehatan merupakan faktor penunjang maksimalnya kinerja kita. Semakin maksimalnya kinerja kita maka semakin optimalnya pembangunan bangsa. Karena itulah faktor kesehatan tidak lepas dari perhatian pemerintah, hal ini ditunjukan dengan disusunnya undang-undang tentang kesehatan oleh pemerintah, guna menjamin kesehatan masyarakatnya.
Banyak undang-undang diterapkan di Negara kita, salah satunya undang-undang kesehatan yang mengatur banyak bidang dalam kesehatan baik dari pengobatan, perawatan, pelayanan.semua sangat jelas diatur dalam undang-undang, disempurnakan kembali dengan adanya peraturan- peraturan mengenainya.dari sini terlihat betapa siap, betapa telitinya bangsa kita ini untuk mensejahterakan rakyatnya.Tapi pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak “ tak ada hal di dunia ini yang sempurna.begitu pula pada pelaksanaan undang-undang, peraturan yang dibuat oleh para menteri terlhat sangat sempurna tapi di aplikasinya banyak sekali terjadi hambatan serta diwarnai dengan manipulasi- manipulasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam undang-undang dasar 1945 pasal 34 bahwasanya” fakir miskin dan anak telantar dilindungi oleh Negara”,pasal 28 H “Sebagai warga negara, rakyat miskin mempunyai hak dasar yang melekat pada dirinya untuk mendapatkan pemeliharaan hidup oleh negara, termasuk memelihara kesehatan, sebagaimana dijamin dalam konstitusi dasar negara”. Sebagai konsekuensinya, tentu negara harus bertanggung jawab melindungi, menjaga, dan memelihara kesehatan seluruh warganya tanpa kecuali dan khususnya warga negara yang hidup dalam deraian kemiskinan dan selalu rentan terhadap aneka jenis penyakit.( Siswono, 2008).tetapi pada kenyataannya kewajiban pemerintah yang dicantumkan pada pasal 28 H belumlah terlaksana dengan baik hal ini ditunjukan dengan masih sulitnya masyarakat miskin mendapatkan jaminan kesehatan yang telah disediakan pemerintah, yaitu askeskin. Kesulitan yang menghambat masyarakat miskin mendapatkan haknya dirasakan mulai dari sulitnya pengurusan askeskin, informasi yang tidak menyeluruh ke semua rakyat miskin, ditambah dengan adanya pihak-pihak tertentu yang tidak jujur dalam mengalokasikan dana sehingga banyak dana yang hilang tak berbekas. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya kontrol pemerintah dalam menjalankan kewajibannya sesuai dengan pasal 28 H dalam UUD1945. Pemerintah pun menegaskan kembali pasal tersebut melalui program Askeskin yaitu program pemerintah untuk menjamin kesehatan bagi masyarakat miskn dan yang kurang mampu.berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004 pemerintah menunjukan PT.ASKES untuk menjalankan program tersebut.
Upaya pemerintah dalam menjalankan kewajibannya untuk menjamin kesehatan masyarakatnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan , banyak terjadi kejanggalan mulai dari pelaksanaannya, koordinasi, verfikasi, hingga pemutakhiran data rakyat miskin. Mulai dari pendataan rakyat miskin sejak tahun pertama 2005, terdapat Rp 2.3 triliun alokasi dana Askeskin. Dan berturut tahun 2006 sebesar Rp 3,6 triliun, 2007 Rp 2,2 triliun dan untuk 2008 telah dianggarkan Rp 4,6 triliun. Artinya, total anggaran mencapai Rp 12,7 triliun, sementara jumlah rakyat miskin yang harus di-cover tahun ini sebanyak 76,4 juta orang, atau sekitar 30 persen dari total penduduk Indonesia.Menarik mencermati angka-angka yang dipaparkan instansi pemerintah dalam cakupan rakyat miskin. Badan Pusat Statistik-BPS, misalnya, pada awal Juli 2007 melansir jumlah penduduk miskin hingga Maret 2007 sebanyak 37,17 juta jiwa, atau mengalami pengurangan sebesar 2,13 juta jiwa. Artinya, sekitar 16,58 persen dari 224,177 juta penduduk Indonesia. Hitungan matematika sederhana, angka ini mengalami penurunan jumlah rakyat miskin dicatatkan lembaga yang sama pada Maret 2006 sebanyak 39,30 juta atau 17,75 persen dari 221,328 juta total penduduk Indonesia saat itu.
Menurut PT Askes, jumlah kepesertaan rakyat miskin dalam Program Askeskin berdasarkan data Gakin (keluarga miskin) yang kemudian dikoordinasikan dengan pemda, pada semester I 2005 sebanyak 36 juta jiwa. Semester II 2005 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 60 juta jiwa. Pada 2006 sebanyak 60 juta jiwa, sedangkan 2007 menjadi 76,4 juta jiwa dari 19,1 juta rumah tangga miskin (RTM) dengan asumsi masing-masing anggota keluarga 4 orang. Anehnya lagi, dalam pengelolaan anggaran Askeskin 2008 sebesar Rp 4,6 triliun, jumlah rakyat miskin tidak bergerak alias tetap di posisi 76,4 juta jiwa. Perhitungan Depkes sebagai pengelola baru Askeskin, dana yang tersedia diperkirakan mampu meng-cover sekitar 41 juta rakyat miskin. Artinya nasib sekitar 35,4 juta siap-siap terkapar akibat tidak mendapatkan akses kesehatan. Kalau beranjak dari perbandingan data-data BPS dan PT Askes/Depkes menyangkut keberadaan rakyat miskin, terlihat jelas perbedaan signifikan, sebesar 37,23 juta jiwa atau lebih dari dua kali lipat jumlah rakyat miskin versi BPS. Artinya, kalau ikut versi PT Askes/Depkes, maka rakyat miskin yang berhak mendapatkan Askeskin, hampir 33 persen dari total penduduk Indonesia, atau setara dengan total penduduk Mesir, yang jumlahnya 76 juta lebih, sesuai versi CIA World Factbook 2004. Sebagai pelaksana tunggal Program Askeskin dengan bayaran management fee sebesar 5 persen dari hampir Rp 8 triliun total dana Askeskin hingga 2007 yang dikucurkan pemerintah, maka jumlah rakyat miskin sebagai peserta Askeskin akan mencengangkan bila dibandingkan paparan BPS. ( Siswono, 2008)
Tak hanya program Askeskin, pemerintah juga menjalankan program Jamkesmas yang dirujuk dari Undang-Undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) tetapi program ini masih bernafaskan asuransi sehingga mengharuskan pembayaran premi dan iuran masyarakat.padahal program ini berbeda dengan asuransi, pemerintah membayar semua kebutuhan medis sehingga masyarakat tidak dipungut biaya, baik untuk perawatan, fasilitas rumah sakit, dan semua obat.tetapi dalam kenyataannya masyarakat miskin masih mengalami kesulitan untuk dapat menikmati yang menjadi hak mereka yang telah diatur dalam undang-undang.
Berbagai upaya pemerintah untuk menjamin kesehatan masyarakatnya terutama masyarakat miskin masih belum maksimal. Masih banyak yang harus dibenahi dalam pelaksanaan undang-undang yang telah disusun oleh pemerintah untuk menjamin kesehatan masyarakat miskin.

PENYESUAIAN DIRI


A.PENYESUAIAN DIRI

1.     Pengertian penyesuaian diri

Penyesuaian berarti adaptasi, dapat mempertahankan eksestensinya (survive) dan memperoleh kesejahteraan rohaniah, serta dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan social. Penyesuaian diri juga dapat diartikan bagai konvormitas, yang menyesuaikan sesuatu dengan standart atau prinsip. Definisi lain mengenai penyesuaian diri yaitu, kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustasi-frustasi secara efisien individu memiliki kemampuan untuk menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian diri juga dapat diartikan sebagai suatu kematangan emosianal. Kematangan emosianal maksudnya ialah secara positif memiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan lingkungan nya.

Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral, sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasitidakterjadi.
Penyesuaian diri merupakan proses yang meliputi respon mental dan perilaku yang merupakan usaha individu untuk mengatasi dan menguasai kebutuhan-kebutuhan dalam dirinya, ketegangan-ketegangan, frustasi, dan konflik-konflik agar terdapat keselarasan antara tuntutan dari dalam dirinya dengan tuntutan atau harapan dari lingkungan di tempat ia tinggal. 
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih  sesuai antara diri individu dengan lingkungan   nya.




2.     Konsep penyesuaian diri

Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai berikut : 
A.    Penyesuaian berarti adaptasi; dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa  survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
  1. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
  2. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon – respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekkuatt/ memnuhi syarat.
  3. Penyesuaian dapat diartikan penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positifmemiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.

3.     Pertumbuhan personal

Manusia  merupakan makhluk individu. Manusia disebut sebagai individu apabila tingkah lakunya spesifik atau menggambarkan dirinya sendiri dan bukan bertingkah laku secara umum atau seperti orang lain. Jadi individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas dalam lingkup sosial tetapi mempunyai kekhasan tersendiri yang spesifik terhadap dirinya didalam lingkup sosial tersebut. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

a.      Penekanan pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dariproses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikansebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaanjasmaniah) yang herediter dalam bentuk proses aktif secaraberkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatifyang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner (1957)bahwa perkembangan berjalan dengan prinsip orthogenetis, perkembangan berlangsung dari keadaan global dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap. Proses diferensiasi diartikan sebagai prinsip totalitas pada diri anak. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya akan menjadi semakin nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.
b.      Variasi dalam pertumbuhan
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.

c.       Kondisi-kondisi untuk bertumbuh
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu. Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik. Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.

d.      Fenomenologi pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai-_Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut (kita pinjam dengan sedikit perubahan dari Coleman dan Hammen.

B.STRESS 

Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.

1.pengertian stress,efek-efek stress “general adaption syndrome”, menurut Hans selye

v  Menurut Selye (Bell, 1996) stress diawali dengan reaksi waspada (alarm reaction) terhadap adanya ancaman, yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti: meningkatnya denyut jantung, yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu merasa tidak mampu untuk terus bertahan.  Systemic stress didefinisikan oleh Selye (dalam Holahan, 1981) sebagai respon non spesifik dari tubuh terhadap beberapa tuntutan lingkungan. Ia menyebut kondisi-kondisi pada lingkungan yang menghasilkan stres, misalnya racun kimia atau temperatur ekstrim, sebagai stressor.
Selye mengidentifikasikan tiga tahap dalam resspon sistemik tubuh terhadap kondisi-kondisi penuh stress, yang diistilahkan General Adaptation Syndrome (GAS).
  • Tahap pertama adalah alarm reaction dari system syaraf otonom, termasuk didalamnya peningkatan sekresi adrenalin, detak jantung, tekanan darah dan otot menegang. Tahap ini bsa diartikan sebagai pertahanan tubuh.
  • Selanjutnya tahap ini diikuti oleh tahap resistance atau adaptasi, yang didalam nya termasuk berbagai macam respon coping secara fisik.
  • Tahap ketiga, exhaustion atau kelelahan, akan terjadi apabila stressor datang secara intens dan dalam jangka waktu yang cukup lama, jika usaha-usaha perlawanan gagal untuk menyelesaikan secara adekuat.
v  ada 50 gejala yang merupakan efek dari stres, terbagi dalam 4 kelompok , yakni fisik, kognitif, emosi dan tingkah laku, antara lain sebagai berikut :
  • Gejala stres yang dapat dilihat melalui efek pada  fisik, antara lain adalah gagap dalam berbicara (sulit untuk bicara), detak jantung meningkat, kepala pusing, badan gemetaran, muntah-muntah, kesulitan bernafas, kelelahan yang berlebihan, serta kesulitan tidur.
  • Secara kognitif, efek stres yang muncul adalah berkurangnya konsentrasi, mudah lupa, munculnya pandangan yang negatif terhadap diri sendiri, kreativitas menurun, serta hilangnya kontrol pada diri sendiri.
  • Sedangkan secara emosi, reaksi stres yang muncul adalah mudah cemas, cepat tersinggung, mudah marah, depresi, penarikan diri pada lingkungan sosial, mudah menangis, menurunnya rasa percaya diri, serta munculnya pandangan negatif pada diri dan orang lain.
  • Dilihat dari tingkah laku, reaksi stres yang terlihat adalah tidak sabar, menjadi ceroboh, nervous laughter, menarik diri dari lingkungan sekitar, merokok, penurunan dan peningkatan nafsu makan, pemakaian obat-obatan terlarang, minum minuman beralkohol, serta munculnya tingkah laku yang bersifat agresif seperti mengemudikan mobil dengan kecepatan sangat tinggi.

2.Faktor-faktor individual dan social yang menjadi penyebab stress
Perkembangan jaman mendorong manusia untuk bergerak lebih cepat dan produktif guna memenuhi kebutuhan hidup. Usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup baik fisik, mentalemosional, dan sosial tidak jarang menghadapi rintangan. Rintangan, tekanan-tekanan dan kesulitankesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadikan individu stres, sehingga mempengaruhi fungsi fisiologis, kognitif, emosi, dan perilaku. Seberapa besar pengaruh stres pada tubuh tidak tergantung pada jumlah atau berat stres yang terjadi, tetapi tergantung pada status stres itu sendiri; apakah diinginkan (desirable stress) atau tidak diinginkan (undesirable stress). Stres yang tidak diinginkan memiliki potensi yang lebih besar dalam menimbulkan efek psikologik.  Stresor adalah faktorfaktor yang dapat menimbulkan stres. Secara umum  stressor menggolongkan dalam tiga golongan, yaitu :
1.      Stresor fisik-biologik, misalnya : kondisi dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan
2.      Stresor psikologis, misalnya perasaan takut, khawatir, cemas, marah, kecewa, kesepian, jatuh cinta
3.      Stresor sosial budaya, misalnya menganggur, perceraian, perselisihan.
3.TIPE STRES PSIKOLOGI

Selye mempelajari akibat yang diperoleh bila stressor terus-menerus muncul.ia mengembangkan istilah General Adaptation Syndrome(GAS) yang terdiri atas rangkaian tahapan reaksi fisiologis terhadap stressor yaitu:
1.Fase reaksi yang mengejutkan (alram reaction)
Pada fase ini individu secara fisiologis merasakan adanya ketidakberesan seperti jantungnya berdegup,keluar keringat dingin,muka pucat,leher tegang.nadi nergerak cepat,dsb.fase ini merupakan pertanda awal orang terkena stress.
2.Fase perlawanan (stage of resistence)
Pada fase ini tubuh membuat mekanisme perlawanan pada stress,sebab pada tingkat tertentu,stress akan membahyakan.tubuh dapat mengalami disfungsi,bila stress dibiarkan berlarut-larut.selama masa perlawanan tersebut,tubuh harus cukup tersuplai oleh gizi yang seimbang,karena tubuh sedang melakukan kerja keras.
3.Fase Keletihan ( stage of Exhaustion)
Fase disaat orang sudah tak mampu lagi melakukan perlawanan.akibat yang parah bila seseorang sampai pada fase ini adalah penyakit yang dapt menyerang bagian-bagian tubuh yang lemah.

Stres adalah terpacunya tubuh dan pikiran untuk merespon tuntutan yang datang pada seseorang. Stres tidak bisa dan sebaiknya tidak dihindari, sebaliknya stres harus ditahan, diatur, dan diarahkan. Respon dari stres mempengaruhi organ dan jaringan di dalam tubuh. Pikiran dan perasaan jelas terjalin dengan proses-proses fisiologis, tubuh mempengaruhi pikiran dan sebaliknya. Perilaku yang sering dimunculkan karena stres misalnya, mudah marah, berbicara dengan cepat, dan bergerak seperti terburu-buru. Tiga tipe stres adalah:
(1) Neustres (stres yang netral) : Stres menjadi sesuatu yang netral ketika seseorang merespon tuntutan dari dalam maupun luar dirinya dengan netral. Pikiran dan tubuh dipacu, tetapi dampak yang dirasakan dari tuntutan yang ada hanya sedikit dan seseorang itu mampu menjalani kehidupannya seperti biasa.
(2) Distres (stres yang bersifat negatif) : Seseorang menganggap pengalaman atau peristiwa yang dialaminya itu membahayakan tergantung pada derajat apakah seseorang menerimastresor itu sebagai sesuatu yang melebihi kemampuannya untuk ditangani, dan apakah itu mengancam kesejahteraannya.
Simptom-simptom distres antara lain: konsentrasi yang rendah, mudah marah, tangan sering berkeringat, pundak terasa kaku, cemas, depresi, dan berbicara dengan cepat. Di dalam keluarga, adanya kondisi distres pada salah satu anggota, terutama orangtua, dapat menimbulkan masalah, seperti: ketegangan di dalam keluarga, teredamnya kebebasan berekspresi, konflik terbuka, menjatuhkan secara psikologis, rendahnya harga diri anggota keluarga yang lain, tidak memberikan perhatian penuh pada kebutuhan fisik dan emosi anggota keluarga yang lain, dan menyebabkan kehancuran dalam keluarga.

(3)Positive Stres : Stres yang memberikan manfaat ketika muncul, antara lain:
(a) membantu merespon dengan cepat dan segenap tenaga dalam keadaan darurat
(b) membantu menyadari potensi diri yang sesungguhnya
(c) berguna untuk tampil dengan baik ketika berada di bawah tekanan (seperti wawancara kerja)
(d) membantu mendorong seseorang ke titik batas.
            Stres yang positif merupakan hasil dari pengalaman yang menggembirakan, seperti memenangkan undian, kenaikan jabatan yang tidak diduga, atau mendapat penghargaan. Berbeda dengan stres yang bersifat negatif, dimana penyebabnya biasanya berupa rasa kehilangan, kelemahan, dan ketidakmampuan menyelesaikan masalah.

·         Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis, yaitu:

A.    Tekanan
Tekanan timbul dari tuntutan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan tekanan dalam diri seseorang. Tekanan juga berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua yang menuntut anaknya untuk masuk ke dalam jurusan yang tidak diminati oleh anaknya, anak yang menuntut orang tua untuk dibelikan semua kemauannya, dan lain-lain

B.      Frustasi
Frustasi muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu hal/tujuan. Misalnya seseorang mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mengakibatkan orang tersebut harus turun jabatan. Orang yang memiliki tujuan tersebut mendapat beberapa rintangan/hambatan yang tidak mampu ia lalui sehingga ia mengalami kegagalan atau frustasi.
Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain.

C.     Konflik
Konflik ditimbulkan karena ketidakmampuan memilih dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, aau tujuan. Saat seseorang dihadapkan dalam situasi yang berat untuk dipilih, orang tersebut akan mengalami konflik dalam dirinya. Bentuk konflik digolongkan menjadi tiga bagian,approach-approach conflict, approach-avoidant conflict, avoidant-avoidant conflict.

D.    Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum tentu marah padanya.

4.     Symptom reducing responses terhadap stress, mekanisme pertahanan diri dan strategi coping untuk mengatasi stress “minor”
1.        Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah
Menurut Lazarus penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a.    Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b.    Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
2.    Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar:
a.    strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
b.    strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stress
3.    Berpikir positif dan self-efficacy
Menurut Bandura self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif. Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif .
4.    Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar,keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

5.     Pendekatan problem solving terhadap stress bagaimana meningkatkan toleransi stress.
Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback.
Melakukan sugesti untuk diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan).
·Meningkatkan Toleransi Stress dan Pendekatan Berorientasi terhadap Tugas
Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda.

Daftar pustaka :

Fatimah,Enung.2010.psikologi perkembangan (perkembangan peserta Didik).jakarta : Cv Pustaka Setia
Haditono (1984). Psikologi umum. Yogyakarta , Penerbit Andi